• Breaking News

    Senin, 29 Desember 2014

    Harga Sebuah Rasa


    Harga Sebuah Rasa

    Oleh:   Inna A’thoina                                                                                                                                        

    Braaaaaakkkk .. (bunyi pintu ditutup dengan kencangnya).

    Sayup-sayup kudengar suara gaduh, suara seorang wanita yang menangis tergugu dan suara seorang pria yang entah mencerca atau mengomel sembarang.

    Kubuka perlahan mataku, buram… terdengar suara kokok ayam jantan, dan kulihat jam dinding menunjukkan pukul 01.00 dini hari.

    Suara gaduh perlahan merendah, senyap, dan kembali sunyi,

    Kutarik kembali selimut hijau bergambar daun bunga matahari yang beberapa menit lalu kusibak, mataku kembali terpejam, lelap.

    v   

    Pagi ini pagi yang indah, dengan sejuta harap dan semangat baru kusambut awal pagi dengan bergegas mengingatNya, mengadukan semua keluh dan harap kehadiratNya, lantas kuatur posisi rapih peraduanku, menghirup udara segar pagi dari jendela kotak kamar dan seperti yang biasa kulakukan diawal pagi, menyapa tetangga sebelah yang hampir setiap subuh menjelang selalu bertengger di teras mini rumahnya memandikan bunga-bunga indah kesayangannya.

    Hei, tetapi pagi ini tak kulihat ia disana.. ibu yang bertubuh gempal berkulit putih dengan baju daster yang biasa ia kenakan tak tampak di teras mini rumahnya. Mungkin pagi ini ia lupa memandikan bunga-bunga yang mulai tumbuh kuncupnya atau ia terlalu sibuk mengurus dua anak laki-laki kecilnya, pikirku.

    jam tangan menunjukkan pukul 06.00 pagi. Kusapa mama lantas kutanyakan tetangga sebelah yang tak terlihat sejak subuh tadi.

    “ Ibu Aminah pagi ini tidak ada dirumahnya ya ma?, atau sibuk mengurus Ical dan Ian, anaknya?.”

    “ Pagi-pagi sekali beliau datang kemari, menggendong anaknya yang masih tertidur pulas, membawa tas besar dan berpamitan, ia menitipkan salam untukmu.” Jawab ibu seadanya.

    “ Berpamitan hendak kemana bu Aminah ma?.” Tanyaku antusias

    “ Malam tadi ada keributan kecil dengan keluarganya, mungkin ia pergi barang sebentar untuk menenangkan diri” jelas mama

    “ Ohh, begitu ya ma..” komentarku singkat, tak ingin tahu keributan apa yang dimaksud ibuku, karena sudah dapat ditebak urusan rumahtangga memang seringkali berakhir dengan tangisan seorang istri atau terbangunnya seorang anak dan menerima kenyataan bahwa ibu atau ayah mereka tak lagi berkumpul bersama.

    Kembali kulihat jam tangan, menunjukkan pukul 07.30, setengah jam lagi aku harus sudah sampai di tempat acara, hari ini ada pelatihan umum yang di selenggarakan oleh lembaga sosial untuk para relawan, yang bergerak di bidang kesehatan dan masyarakat umum.

    Ahh, masih ada beberapa menit sebelum menuju tempat acara, lantas kugunakan waktu untuk sekadar melihat berita apa saja hari ini. Mulai memegang remote TV dan mulai mencari-cari channel yang menunjukkan berita pagi ini. 3detik, 5 detik, sekilas-sekilas, masih mencari acara yang tepat untuk di simak, lima menit berlalu, sepuluh menit, dan alhasil aku malah bosan mendengar kabar pagi ini. Semua berbicara tentang kehidupan para Selebritas muda tanah air, mulai dari potongan rambut, gaya berpakaian sampai hiasan-hiasan yang mereka pakai. Mulai dari putus-nyambung, pernikahan mewah sampai perceraian yang terkesan senyum simpul. Yah, perceraian yang seharusnya menimbulkan penyesalan dan rasa pahittetapi menjadi sesuatu yang lumrah dipandang mata, yang lumrah di dengar telinga.

    Berita yang disajikan pagi ini pun rata-rata bertajuk kekerasan, dari mulai penyiksaan majikan terhadap pembantunya, anak memukul ibunya, sampai suami menyiksa istrinya.

    Aku jadi teringat tetangga sebelah beranak dua yang setiap pagi memulai aktifitasnya dengan bunga-bunga kesayangannya. Bu Aminah.

    Apa yang telah suami nya perbuat sampai tangisannya begitu menyayat, tergugu. Apa suaminya memukulnya?,atau ada sesuatu yang ia kecewakan atas suaminya?, karena apa?.. ahh, sudahlah (menepis semua pikiran-pikiran buruk yang sedaritadi memenuhi kepala).

    Baiklah, sudah saatnya tuk bergegas berangkat menuju tempat pelatihan hari ini. Setelah berpamitan dengan orang-orang rumah lantas menuju halte terdekat dan mulai perjalanan singkat ke tempat tujuan.

    v   


    “ Akhirnya sampai juga.” (bernafas lega)

    Kuedarkan pandangan melihat keadaan sekitar, rupanya disini sudah ramai meskipun acara baru akan dimulai pukul 09.00 sekitar 15 menit lagi.

    Kulangkahkan kaki menuju lapangan luas yang disulap menjadi aula besar dan nyaman dihadapanku, Kusapa para peserta lain yang hadir.

    Beberapa menit kemudian acara dimulai.

    Dibuka dengan tilawah dan sambutan, kemudian acara utama yakni pelatihan tentang cara berinteraksi sosial.

    Dua jam berlalu, acara berjalan dengan ramainya. Para peserta antusias menyimak dengan seksama tekadang serius mendengarkan terkadang tawa memenuhi ruangan, terkadang terdengar sahutan menaggapi, terkadang diam mengikuti pertanda setuju dengan Pemateri.

    Maka tibalah waktu istirahat bagi para peserta.

    v   

    Ditengah waktu istirahat di ruangan besar berukuran lapangan bola yang luas Pemateri mengangkat suara. “siapa yang ingin membantu saya maju ke depan?,ibu-ibu atau mbak-mbak nya?,mari silahkan bagi yang berkenan.”

    Lantas seorang ibu muda berparas ayu yang bila dikira-kira umurnya sekitar 30-an dengan sukarela maju ke depan, menyita perhatian sebagian besar peserta lain yang sedang meregangkan badan karena terlalu lama duduk menyimak serius.

    “ Bisakah tolong anda ambilkan spidol disana, dan tuliskan 10 nama orang-orang terdekat anda, kerabat, keluarga, sanak, saudara atau orang terkasih anda”  Pemateri angkat suara.

    Kemudian ibu muda itu menuliskan urutan 1 sampai 10 nama diatas papan putih besar dihadapan kami, mungkin itu nama orang-orang terdekatnya.

    “ Baiklah, saya tidak tahu siapa saja orang-orang yang anda tulis namanya disana, tapi sekarang cobalah coret 1 nama yang anda kira nama itu tidak berpengaruh penting dalam hidup anda” Pemateri menginstruksikan.

    Lantas ibu muda itu mencoret 1 nama diantara 10 nama-nama disana.

    Lalu Pemateri menginstruksikannya kembali untuk mencoret satu persatu orang-orang yang namanya tertulis disana sampai tersisa 3 nama teratas.

    Aku mulai antusias memperhatikan apa yang akan dilakukan oleh ibu muda itu selanjutnya, dan apalagi yang di instruksikan oleh Pemateri dengan nama-nama tersebut. Untuk apa?. Sejenak kuedarkan pandangan pada sekitar ternyata hampir seluruh peserta memperhatikan apa yang disampaikan oleh Pemateri.

    “ Baiklah, ibu apakah saya boleh tahu siapakah nama tiga orang yang anda tulis itu?.” Tanya Pemateri.

    Ibu muda itu menjawab “yang teratas adalah nama anak saya, yang kedua nama suami saya dan ketiga nama orangtua saya”

    “ Saya menyimpulkan bahwa nama-nama yang anda sisakan adalah nama orang yang paling berharga dalam hidup anda, yang anda tidak ingin kehilangan mereka. Sekarang bisakah anda coret satu nama yang anda kira ia berharga namuntidak berarti penting dalam hidup anda”

    Aku dan peserta lain meperhatikan penuh nama siapa kira-kira yang akan dicoret oleh ibu muda tersebut.

    Dan ternyata.. ia mencoret nama orangtuanya.

    Peserta yang lain mulai riuh rendah.

    Aku masih meperhatikan dengan seksama.

    “ Tinggal dua nama yang anda sisakan, yang berarti dua nama itu adalah orang-orang yang sangat anda butuhkan keberadaannya, tapi cobalah anda sisakan satu nama saja diatas papan putih ini, hanya satu nama” seru Pemateri.

    Peserta yang lain mulai harap-harap cemas bagaimana ibu muda itu akan memilih diantara nama orang yang dikasihinya. Peserta disebelahku menatap ibu muda itu dengan tatapan berkaca-kaca menunggu nama siapa selanjutnya yang akan dicoret dari nama orang terkasihnya.

    tetapi, tanpa ragu ibu muda itu mencoret satu nama diatasnya. Nama anaknya.

    Peserta yang lain mulai bertanya-tanya termasuk aku, mengapa yang ia sisakan nama suaminya?.

    Pemateri tersenyum simpul, Lantas berkata seperti tahu apa yang peserta lain pikirkan “apakah dibenak anda semua mempunyai pertanyaan “ Mengapa?”, bahkan saya pun tak tahu mengapa ibu ini memilih satu nama tersebut. Silahkan anda bisa menjelaskan mengapa anda pikir nama yang tidak anda coret itu begitu berharga dalam hidup anda”  bertanya pada ibu muda yang tatapannya begitu meyakinkan.

    Lantas ibu muda itu mulai berkata…

     “ Orangtua adalah orang yang saya sayangi, saya kasihi, bahkan kasihnya tak pernah dapat saya balas, kasih sepanjang masa adalah istilah yang paling tepat untuk menggambarkan kasih sayang orangtua, begitu tulus tanpa pamrih. Cintanya yang begitu besar merawat saya dari buaian hingga tumbuh dewasa, dan saat saya dewasa itulah berarti berpisah dengan orangtua, saya hidup mandiri lepas dari asuhan orangtua dan hidup dengan diri saya sendiri.

    Dan anak-anak yang saya lahirkan dengan susah payah sampai bertaruh nyawa dengan hidup mereka, lantas saya rawat sejak ia bayi hingga tumbuh besar. nantinya akan meninggalkan saya. Ia akan hidup mandiri dengan dirinya sendiri, ia akan punya keluarga baru dan akan disibukkan dengan keluarga barunya.

    Sedangkan seorang suami, adalah pendamping hidup saya. Ia tadinya memang bukan siapa-siapa tapi setelah menjadi suami ia ada disaat suka maupun duka, ketika nantinya anak-anak meninggalkansaya suami tetap berdiri setia menemani, Ada di saat muda dan Mendampingi di masa tua. Hanya akan terpisah oleh satu sebab, kematian. Dan begitulah seorang suami menjadi bergitu berharga bagi saya, Terimakasih.

    “ Baik, terimakasih ibu telah bergabung disini dan berbagi (Pemateri berkata sambil menyalami ibu muda)”

    “ Iya, terimakasih kembali” jawabnya.

    Aku menatap ibu muda berwajah tulus itu hingga kata-kata pemateri selanjutnya tak kudengar. Sibuk dengar pikiran-pikiran yang berkecamuk sedaritadi.

    Hidup memang tentang seberapa besar kita menghargai orang lain, seberapa besar menjadikan orang lain berharga dimata kita, karena rasa tulus dan sepenuh hati ada pada setiap diri manusia. Ia tak tampak dipandang mata tapi dapat dirasa dengan jiwa. Ia tak memberi banyak dalam dunia nyata tapi ia memberi sepenuhnya pada setiap rasa.

    v   

    Acara berakhir dengan tepuk tangan yang begitu meriah, terlihat wajah-wajah sumringah para peserta yang mengerti banyak hal kini. Tentang penghargaan yang kita beri untuk oranglain.

    Tiba-tiba aku teringat tangisan tergugu dini hari tadi, tangis kecewa seorang wanita paruh baya tentang harga sebuah rasa.






               
    Posting Komentar