• Breaking News

    Senin, 04 Mei 2015

    Senja di Tengah Gelora Libya

    Senja di Tengah Gelora Libya
    Oleh : Riyadi S. Harun ( Ma'had Tsani Ta'hili )

    Saat itu, matahari mulai terbenam secara perlahan. Namun, cahayanya yang begitu terang masih sangat terasa ketika tidak ada sekumpulan awan pun yang menghalagi dahsyatnya kilauan sang penguasa siang.Sambil menikmati secangkir kopi robusta hangat yang saya siapkan beberapa saat yang lalu, saya jadi teringat akan pengalaman pertama saya ketika hijrah ke tanah Libya ini yang begitu mengesankan. 
    Berawal dari sebuah inbox yang masuk ke handphone saya saat jam belajar masih berlangsung dan saya memilih untuk mengambil handphone yang tersimpan di saku kanan celana saya untuk membacanya, “Di, Alhamdulillah kalian uda diterima di Libya, dan aku baru dapat kabar kalau visa kalian uda keluar, kalau bisa secepatnya kalian ke Jakarta buat ngurus visa, nanti kita bisa berangkat sama-sama”. Ternyata itu sebuah pesan dari kawan saya yang beberapa bulan lalu mengurus berkas murasalah kami untuk melanjutkan pendidikan di Libya, seketika itu pula pikiran yang tadinya hanya fokus dengan apa yang sedang diajarkan berganti dengan perasaan gembira yang tidak bisa digambarkan dengan apapun. Dengan wajah yang begitu ceria dan senyuman yang saat itu tidak bisa saya sembunyikan, saya menyodorkan handphone saya kepada seorang teman yang duduk tepat disebelah kanan bangku saya, dengan harapan dia juga akan merasakan apa yang saya rasakan.”Wi, coba baca, ni ada pesan dari Jufri”. Tiba-tiba terlihat wajah Nahrawi membalas senyuman saya, saya bisa merasakan bagaimana perasaan dia saat mengetahui kalau tidak lama lagi kami akan mendapatkan apa yang selama ini kami inginkan. Maklum saja, setelah kami menjadi alumunus di salah satu pondok pesantren di Aceh, seakan hidup kami tidak pernah terpisahkan, mulai dari menjadi mahasiswa di Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry dengan fakultas dan jurusan yang sama sampai akhirnya tinggal di Mahad Daarut Tahfidh Al-Ikhlas dengan mengikuti program ‘idad lughawi di Lembaga Ilmu Pendidikan Islam dan Arab (LIPIA) Aceh setelah gagal berangkat ke Arab Saudi. Berita itu seakan menjadi jawaban atas doa kami selama ini, seperti layaknya pasangan suami istri yang sudah lama menginginkan keturunan tapi tidak pernah kesampaian. Namun, sekian lama mereka bersabar tiba-tiba berita kehamilan istrinya di dapat setelah hasil diagnosa dokter menyatakan si istri positif hamil, begitu bahagianya mereka, bukan? Begitu juga yang kami rasakan saat itu, seakan lisan tak pernah berhenti mengucapkan kata-kata syukur kepada Allah SWT.
    Mulai saat itu, kami mulai disibukkan dengan berbagai persiapan untuk  keberangkatan sehingga jumlah ketidakhadiran kami di LIPIA semakin meningkat dan berbagai pertanyaan dari kawan-kawan pun harus kami layani, mungkin karena kami tidak pernah memberi tahu mereka tentang pengurusan berkas ke Libya, meskipun kami sudah dinyatakan lulus, ini sengaja kami rahasiakan karena kami sudah pernah merasakan bagaimana harus menanggung beban disaat orang-orang sekitar tahu kami lulus beasiswa ke luar negeri tapi tidak berangkat, disitulah kadang saya merasa sedih. Tak terkecuali pertanyaan juga datang dari seorang lelaki separuh baya yang berjenggot rapi dengan kacamata buatan Italia yang memanggil kami ke ruangannya. Iya, dia adalah Syeikh Shahibany, mudir LIPIA saat itu. Sosok yang sangat kami kagumi karena sifatnya yang begitu penyayang. Akhirnya kami berterus-terang perihal apa yang membuat kami berhalangan hadir selama ini,”kami merasa senang atas kesenangan kalian dan kami juga merasa sedih atas kesedihan kalian”. Itulah kalimat terakhir dia ucapkan yang tidak bisa saya lupakan sampai sekarang.
    Setelah mendapat kabar kalau nama kami sudah tidak ada lagi di LIPIA, mungkin ini karena jumlah ketidakhadiran kami yang sudah mencapai angka maksimun atau setelah kami menjelaskan perkara kelulusan kami kepada mudir, disitulah kami mulai merasa sedikit harus menetaskan airmata, sejujurnya ini bukan karena kami harus keluar tidak pada waktunya, melainkan karena ujian akhir yang hanya tinggal menghitung hari dan pelaksanaan wisuda yang menjadi momen penting harus kami tinggalkan begitu saja sehingga nostalgia akhir bersama kawan-kawan di LIPIA tidak bisa kami sempurnakan. Inilah namanya hidup, disaat ada dua jalan yang sama-sama memberi pengaruh besar dalam kehidupan, maka kita harus berani mengambil satu jalan dengan berbagai pertimbangan dan meninggalkan yang satunya meskipun akan menyisakan luka.
    Tepatnya pada hari minggu, 21 Desember 2014, tiga keluarga besar berkumpul di salah satu sudut Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, Aceh. Mereka adalah keluarga saya, Jufriadi dan Nahrawi. Namun, kabar yang tidak diinginkan pun datang setelah kami melakukan check in di kounter salah satu maskapai yang sudah kami booking beberapa hari yang lalu, ternyata ketidaktelitian kami disaat memesan tiket mengakibatkan kekecawaan begitu mendalam yang kami rasakan, jadwal keberangkatan hari minggu itupun terpaksa kami alihkan ke hari senin setelah tahu kalau pihak travel tempat kami beli tiket salah menulis tanggal keberangkatan kami yang mulanya 21 Desember 2014 tertulis 20 Desember 2014 sehingga pihak maskapai tidak bisa membantu kecuali kami mau membayar dua kali lipat dari harga biasanya. Hasilnya, kami harus tinggal sehari lagi di Tanah Rencong dan keluarga saya harus segera kembali ke kampung meski tidak sempat melambaikan tangan ke pesawat seperti yang biasanya dilakukan oleh keluarga-keluarga lain disaat salah satu dari mereka pergi meninggalkan kampung dalam waktu yang lama.
    Sesampainya kami di ibukota, kami tinggal di rumah Ustadz Ali Sodikin yang sebelumnya sudah mengenal Jufriadi. Beliau begitu baik kepada kami meskipun baru dikenalnya,  kami tidak merasa diperlakukan seperti orang baru, melainkan seperti keluarga beliau sendiri. Setelah beberapa hari, kami mendapat kabar kalau tiket sudah dikirim dan ternyata disitu hanya tercantum nama Jufriadi, Muhammad Nahrawi, Alvan Satria Shiddiq, Muhammad Faiki Azzam dan dua senior kami Zaki Imamuddin dan Muhammad Yusuf Haddad. Musajjil kampus mengabarkan kalau tiket untuk saya tidak bisa dibelikan karena nama saya di paspor hanya satu kata, sehingga saya diberikan dua opsi, apakah harus berangkat dengan biaya sendiri atau menambahkan dua kata lagi di kolom nama pada paspor saya. Saya memilih opsi yang kedua karena meskipun memilih berangkat dengan biaya sendiri tetap saja keinginan untuk berangkat bersama tidak bisa ditunaikan karena kuota yang berangkat pada tanggal 28 Desember 2014 sudah penuh. Takdir Allah memang tidak bisa diramalkan, keberangkatan enam sahabat saya dikala itu harus kembali menelan kekecewaan, disaat Maskapai Turkish Airlines menyatakan kalau tiga dari enam sahabat saya tidak diperbolehkan berangkat karena alasan teknis. Disatu sisi saya sedih karena sahabat saya tidak bisa berangkat sesuai jadwal, tapi disisi yang lain saya merasa senang karena akhirnya mereka akan menemai saya berangkat di kemudian hari. Setelah mengurus paspor dan tiket ketiga sahabat saya, akhirnya kami dijadwalkan berangkat pada Selasa, 6 Januari 2015. Merupakan jadwal yang begitu mengesankan buat saya, karena saya menganggap keberangkatan kali ini akan menjadi kado spesial ulang tahun saya yang ke-21. Namun, apa hendak dikata, kekecewaan kembali menghampiri setelah mendapat kabar kalau Maskapai Turkish Airlines tidak lagi beroperasi ke Bandara Internasional Tripoli karena faktor keamanan dan kondisi bandara yang sudah tidak beroperasi setelah sehari sebelumnya diserang oleh kelompok yang sedang bertikai disana. Kado spesial yang saya anggap itupun sirna dan dihari jadi saya saat itu saya habiskan dengan mengajak Jufriadi ke Tangcity, salah satu supermarket ternama yang ada di Kota Tangerang untuk makan di KFC dan mencoba beberapa baju baru di kamar pashanya untuk sekedar menenangkan pikiran. Beberapa kejadian yang menggagalkan kami berangkat dimulai dari Aceh pada tanggal 21 Desember, tanggal 28 Desember dan terakhir tanggal 6 Januari semakin membuat kami sadar kalau kehendak Allah tidak bisa kita rubah kecuali hanya bertawakal. Akan tetapi, yang sangat membuat kami terharu ketika Ustadz Ali selalu menawarkan rumahnya sebagai tempat singgahan sebelum mendapat kepastian kapan kami akan berangkat, karena pada awalnya kami hanya berencana tinggal seminggu di rumah beliau, tetapi pada akhirnya kami menghabiskan waktu sebulan dirumah yang ditempati oleh Ustadz Ali dan istrinya beserta 4 anak-anaknya yang masih kecil ditambah seorang kakek yang tidak lain adalah ayah kandung dari Ustadz Ali itu sendiri.
    Pada keberangkatan yang terakhir ini, kami hanya bertawakal kepada Allah, kalau memang  ditakdirkan untuk bisa melanjutkan pendidikan di Kuliyah Dakwah Islamiyah pasti akan Allah mudahkan perjalan kami kalau memang tidak, maka Allah punya rencana lain. Akhirnya, jadwal keberangkatan kali ini berhasil membawa saya, dan tiga sahabat saya menghirup udara di Bandara Attaturk, Istanbul-Turki. Meskipun tidak sempat menginjak langsung tanah di Turki atau mencium harumnya bunga-bunga disana, pemandangan di dalam bandara yang dipenuhi oleh mayoritas penduduk Turki sudah membuat jantung saya berdetak lebih cepat, sesekali bulu roma saya berdiri karena takjub melihat ciptaan Allah yang begitu indah. Tidak boleh termakan suasana, karena kami harus kembali mengemaskan barang-barang untuk mengurus keberangkatan ke Libya dengan menggunakan Maskapai Afriqiyah Airlines yang dijadwalkan akan take off pada jam 2.00 siang waktu setempat. Namun, peristiwa kali ini membuat kami jauh lebih kecewa dari sebelumnya, karena sekian lama kami menunggu didepan kounter maskapai tersebut tidak nampak seorang karyawan pun yang akan melayani kami dan penumpang yang lain untuk melakukan check in, apalagi posisi kami di negara orang yang sama sekali tidak ada seorangpun yang kami kenal. Belakangan kami mendapat kabar kalau cuaca buruk yang melanda Libya membuat penerbangan terganggu, sehingga Maskapai Afriqiyah Airlines harus menunda kebrangkatan dan kami harus menunggu disana sampai kondisi kembali stabil. Meski hanya sarapan dengan dua potong roti dibagi empatdan sebotol air mineral yang simpan oleh Bang Yusuf ketika keluar dari pesawat membuat kami sedikit lebih baik, setidaknya itu bisa sedikit mengganjal perut kami di hari itu sambil menunggu kabar selanjutnya dari pihak maskapai. Seharian hanya kami habiskan untuk berkeliling bandara atau duduk ketika otot-otot kami terasa pegal. Dari jarak yang tidak begitu jauh terlihat seorang gadis mengenakan long-john hitam panjang dan jilbab khas Turki berwarna biru sedang duduk menyendiri dengan dua koper besar disampingnya, wajahnya yang begitu mengesankan membuat saya betah berlama-lamaan disana, sempat terlindas dipikiran saya kalau suatu saat ingin mempersunting seorang gadis Turki, meskipun bukan dia. Sampai akhirnya dua orang datang dan membawa semua barang-barang dari tempat duduknya, ternyata dari tadi gadis itu menunggu orang tuanya yang sedang melalukan check in di kounter yang tidak terlalu jauh dari tempat dia duduk.
    Setelah sekian kami menunggu tanpa kepastian dan rasa lapar yang begitu menyiksa, timbul inisiatif dari Bang Yusuf untuk datang ke costumer service untuk menanyakan kabar keberangkatan, belum sempat menanyakan apapun seorang karyawan keluar dari ruang tersebut seakan ingin menempelkan sesuatu di kaca depan, disitu tertulis, “CHECK IN BEFORE 8 PM”. Itu menandakan kalau kami harus ke kounter untuk segera melakukan check in, setelah antre yang begitu panjang tibalah saatnya jatah kami untuk check in dan menimbang barang-barang yang akan dimasukkan ke bagasi, ternyata barang-barang kami overweight sampai 40 kg, sungguh jumlah yang sangat besar untuk maskapai internasional yang melayani standard domestic sehingga kami diminta untuk membayar ke bagian costumer service, disini Bang Yusuf kembali menjadi pahlawan bagi kami, inisiatifnya untuk memohon dengan mengaku sebagai pelajar yang tidak memiliki banyak uang untuk membayar  menjadi pertimbangan bagi pihak maskapai dan akhirnya mengembalikan paspor dan boarding pass kami yang sebelumnya ditahan. Disana juga kami sempat berkenalan dengan seorang penduduk asli Libya yang sekarang sedang mengambil program Ph.D di salah satu Universitas di Malaysia, sebut saja namanya Abu Bakar. Ketika asik berbincang dengan beliau, tiba-tiba seorang lelaki tua dengan tiga kantong plastik ditangannya datang menghampiri kami, “nak, ini ada sedikit rezeki untuk kalian, ada roti khas Pakistan, ayam dan beberapa minuman, saya harap kalian senang menerimanya”. Ucap lelaki tersebut yang kemudian langsung pergi entah kemana. Tanpa berpikir panjang ketiga plastik tersebut kami terima dan langsung kami melirik salah satu sudut bandara yang agak sepi untuk diselesaikan secara adat, kedatangannya seperti malaikat pembawa hujan dikala kemarau panjang. Setelah mengabiskan satu palstik makanan yang diberikan tadi kami kembali menunggu sampai pesawat benar-benar meninggalkan Kota Istanbul pada jam 01.00 pagi, artinya kami menghabiskan waktu seharian hanya di bandara.
    Dan akhirnya pada tanggal 24 Januari 2015 untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di tanah Libya ini. Setelah menunggu beberapa saat, tiba-tiba seorang lelaki yang sudah tidak asing lagi bagi saya datang menghampiri kami beliau adalah Ustadz Abdullah Ateeg yang telah banyak membatu keberangkatan kami dan kemudian mengarahkan kami ke arah parkiran untuk segera menuju mobil yang sudah menunggu, dalam perjalanan menuju kampus banyak pemandangan yang menyakinkan saya akan bagaimana kondisi Libya yang sebenarnya. Hingga kami tiba di sebuah gerbang yang didepannya berdiri sebuah tank tempur,“Nah, alhamdulillah kita sudah sampai Di, inilah dia kampus kita”. Ucap Jufri sambil menjelaskan beberapa gedung kampus. Sungguh kampus yang begitu besar menurut saya, tapi kasian tidak begitu terawat mungkin karena kondisi keamanan Libya yang belum stabil sehingga menghambat perkembangan setiap instansi yang ada serta membuat sebagian negara enggan mengizinkan warganya untuk menuntut ilmu disini, meskipun keadaan kita disini aman-aman saja. Menurut saya, Libya adalah salah satu negara yang unik, disatu sisi saya takjub melihat sebagian warganya yang seakan mereka tinggal di negara yang aman, ini terbukti selama hampir dua bulan saya disini sampai tidak bisa membedakan mana bunyi senjata dan mana bunyi mercon yang selalu menghiasi langit Libya dimalam hari. Disisi yang lain saya masih heran dengan kondisi politik Libya yang tak kunjung mencapai permukaan. Apa yang sebenarnya mereka inginkan? Hanya mereka yang tahu dan tugas saya disini hanya belajar, belajar dan belajar hanya itu.
    Begitulah kisah saya dan sekarang saya semakin yakin, kalau Allah pasti akan mengabulkan setiap doa yang dipanjatkan meskipun tidak secara langsung, mungkin supaya kita bisa memahami arti kesabaran atau ada hal lain yang jauh lebih baik dari apa yang kita inginkan. Itu semua adalah rahasia-Nya, karena Allah jauh lebih mengetahui apa yang terbaik buat kita. Nah, tanpa terasa secangkir kopi sudah saya habiskan sambil menikmati senja di tengah gelora Libya.

    Wassalam
    Posting Komentar