• Breaking News

    Minggu, 11 Oktober 2015

    Libya dan Idul Adha

    oleh : Muhammad Hilmi

    Pasca revolusi Libya 2011, hanya segelintir mahasiswa Indonesia yang berkenan dan bisa kembali ke kampus tercinta ini. Dengan keterbatasan jumlah, show keep go on. Seperti rutinitas Idul Adha yang mengotakkan kita dalam kotak-kotak kecil, setiap kotak kecil berisi himpunan 15 individu mahasiswa yang biasanya berasal dari satu Negara. Setelah sekian tahun kita menikmati daging qurban bersama teman-teman Negara lain seperti Malaysia dan Thailand, akhirnya di tahun 1436/2015 ini kita bisa berhimpun sesama teman Indonesia untuk mendapatkan jatah seekor domba.

    Dari total 27 orang anggota kesatuan keluarga mahasiswa Indonesia, hanya ada 21 orang yang di Idul Adha tahun ini bisa bermukim di dalam asrama kampus. Jadilah tahun ini kita mendapatkan seekor setengah domba ditambah beberapa kilo daging unta dan beberapa potong paha kambing yang kita terima dari sedekah beberapa masyarakat Libya.

    Oh ya, ada hal unik tentang Libya dan sepotong paha. Dalam tradisi mereka, mereka terbiasa menyedekahkan sepotong paha dari setiap ekor domba yang mereka sembelih di hari raya idul Adha. Paha-paha tersebut biasanya mereka sedekahkan ke kerabat, tetangga ataupun kawan mereka. Jadi makin banyak jumlah kawan kita dari warga-warga lokal besar kemungkinan akan makin banyak jumlah potongan-potongan paha yang akan kita dapat (Hahahha ngarep banget).

    Masih tentang tradisi masyarakat Libya di hari Idul Adha, (gw bahas yang baik-baik dulu ya) tidak seperti kita masyarakat Indonesia yang pulang kampung berkumpul dengan keluarga besar di hari raya Idul Fitri. Masyarakat Libya sebaliknya, mereka justru mudik pulang kampung di hari raya Idul Adha, berkumpul bersama keluarga besar di kampung halaman, menyembelih dan menikmati daging qurban bersama. Karena itulah hari libur mereka di hari raya Idul Adha lebih panjang dari hari libur mereka di hari raya Idul Fitri.

    Di beberapa masjid juga memasang baliho bertuliskan “menerima sedekah daging qurban” yang selanjutnya di distribusikan kepada mereka-mereka yang berhak.

    Di moment lebaran kali ini saya berkesempatan berkunjung ke beberapa kawan dari Negara Chad yang telah sekian generasi bermukim di Negara Libya ini. Kesederhanaan kehidupan padang pasir masih begitu kental terasa, hal ini tersirat dari bagaimana mereka mengolah dan menyajikan daging qurban. Daging domba yang sudah mereka potong-potong mereka bakar begitu saja tanpa di bumbui apapun, selanjutnya mereka menghidangkan potongan daging tersebut diatas nampan bersama garam dan pisau. Jadi kita sendiri yang menyayati daging tersebut kemudian kita cocolkan ke garam baru kemudian kita makan (gw jadi keinget kayak lagi rujakan di kampung gan).

    Nah sekarang sisi lain gejala sosial yang nampak pasca hari raya. Kurang tertatanya penataan dan pengelolaan sampah di dalam kota banyak menimbulkan gunung-gunung sampah di beberapa titik. Dalam sebuah keluarga besar biasanya mereka menyembelih seekor atau bahkan bisa sampai tiga ekor domba tergantung dari seberapa banyak jumlah keluarga besar mereka. Masalah timbul setelah masa penyembelihan, banyak dari mereka yang membuang kulit-kulit domba begitu saja di pinggir-pinggir jalan, bahkan ada juga kaki-kaki dan kepala domba yang bergeletakan di pinggir jalan. Coba kita bayangin, andai semua dari keluarga tersebut membuang sampah qurban di pinggir jalan raya kira-kira akan ada berapa gunung kulit, gunung kaki dan gunung kepala domba. Sejatinya kita sebagai umat muslim harus sadar dengan kebersihan lingkungan sekitar, tentunya untuk kemaslahatan kita bersama. Eh ngomong-ngomong, kulit, kaki dan kepala domba yang kita potong kemarin kemana ya ?, gak di buang di pinggir jalan juga kan . .?

    Posting Komentar