• Breaking News

    Jumat, 04 Desember 2015

    Hermeutika

    Hermeutika
    Oleh : Ahmad Dzahabi

    Arti dan Asal muasal
    Berasal dari kata yunani hermeneutikos dan bahasa inggris hermeneutic yang memiliki arti menafsirkan atau interpretasi terhadap sesuatu untuk mendapatkan arti yang dimaksud.
    Asal muasal hermeneutika menurut literature kuno  berasal dari mitologi yunani, dimana kala itu seorang dewa dan sekaligus nabi dari golongan yunani yang bernama hermes mendapatkan tugas dari ayahnya yang seorang dewa bernama zeus untuk menyampaikan pesan dari langit kepada manusia. Pesan itu tidak bisa difahami oleh manusia sehingga hermes perlu menyampaikan penafsiran bahasa langit dengan menggunakan bahasa bumi.
    Penafsiran terhadap teks ini kemudian berkembang dan diadopsi oleh barat untuk menafsirkan teks bible mereka yang banyak sekali dijumpai kesalahan dan kebohongan serta pesan pesan yang tidak ilmiah yang sangat bertentangan dengan akal sehingga mereka merasa perlu untuk mengkritisi dan melakukan dekonstruksi teks, aplikasi dekonsruksi teks ini tidak lain dan tidak bukan untuk melakukan pembenahan yang bisa diterima oleh logika manusia.
    Namun pada realita yang sudah terjadi rekonstruksi teks bible itu sendiri masih memiliki cela disana sini dan  akibatnya orang eropa pada waktu itu sudah mulai kehilangan kepercayaan   dengan kitab suci mereka.
    Bertahun tahun mereka melakukan studi kritis terhadap kitab suci mereka bahkan mengumpulkan manuskrip kuno dari banyak Negara  dengan berbagai bahasa yang bermacam-macam tetapi justru manuskrip tersebut sedikit sekali yang otentik.
    Hermeneutika adalah alat untuk meliberalkan pemikiran, hasil dari berkembangnya faham liberal yang lahir diawal abad enlighment atau seringkali disebut juga dengan abad renaisans yang mulai dipelopori oleh perancis.
    Bisa kita simpulkan bahwa muculnya metodologi hermeneutika ini disebabkan beberarapa problem :
    1.       Milieu atau lingkungan bangsa eropa banyak dipengaruhi pemikiran orang yunani
    2.       Munculnya faham sekuler dan liberal
    3.       Keraguan terhadap teks kitab suci baik yang perjanjian lama maupun yang baru, kalau diperinci sebagai berikut :
    a.       Otentisitas teksnya
    b.       Problem bahasa
    c.       Problem kandunganya


    Pembagian hermeneutika
    Hermeneutika ini dibagi menjadi 3 bagian :
    1.       Hermeneutika   khusus, hermeneutika yang digunakan pada semua bidang disiplin ilmu pengetahuan, artinya setiap bidang ilmu baik itu hukum, social dan politik memiliki hermeneutika sendiri-sendiri.
    2.       hermeneutika umum, hermeneutika yang mengedepankan penciptaan metodologi ilmiah dan kaidah-kaidahnya serta penerapan secara disiplin terhadap kaidah-kaidah tersebut.
    3.       Hermeneutika falsafi, yaitu jenis hermeneutika yang menerapkan pemahaman mendalam secara filosofis terhadap obyek kajian tanpa mensyaratkan penerapan kaidah-kaidah umum.
    hermeutika berkembang mencapai puncaknya pada abad 19 ketika seorang tokoh filosof ternama friedrich schleirman mengenalkan metodologi baru, yaitu penggabungan metodologi fonologi/ kebahasaan dan falsafi tanpa pandang bulu apakah itu teks ilahi atau teks manusiawi.
    Orang yang melakukan kajian terhadap teks dengan metode ini disebut hermenet. Dan seorang hermenet pasti memiliki rasa kecurigaan terhadap teks dan menyakini bahwa seorang penafsir teks tidak bisa melakukan studi secara benar-benar obyektif. Dan setiap penafsir tidak bisa keluar dari pengaruh budaya dimana ia tinggal sehingga penafsir tidak lepas dari sifat subyektifitas. Tidak ada yang benar-benar mutlak obyektif.
    Segitiga hermeneutika
    Sgitiga hermeneutika ini terdiri dari 3 komponen dasar, yaitu :
    1.       Pengarang
    Adalah orang yang menciptakan teks. Untuk mengarang teks pengarang diharuskan mampu mendatangkan kata-kata yang dapat difahami oleh manusia guna tercapainya tujuan awal yang diinginkan sejak awal.
    Setiap pengarang tidak mungkin terlepas dengan pengaruh social, politik dan budaya dimana si pengarang itu tinggal. Sehingga teks apapun dalam konteks ini dianggap sebagai sebuah produk budaya.
    Studi tentang pengarang tidak luput juga dari kajian mengenai historis dan latar belakang pengarang, lingkungan dan kondisi kejiwaanya, semua aspek kehidupanya diteliti sedalam-dalamnya untuk mendapatkan pemahaman holistic.
    2.       Teks
    Pesan yang ditulis dan digambarkan dalam bentuk symbol. Penggunaan symbol dalam teks mengandung makna tertentu. Symbol suatu teks tak selamanya mengandung satu makna saja terkadang bisa mengandung makna lain bila penggunaan symbol digunakan di komunitas lain. Misal : symbol dengan warna bendera putih yang memiliki makna bahwa warna itu menyampaikan berita tentang kematian manusia. Symbol ini biasa dipakai di Negara kita. Tapi dalam skala internasional bendera warna putih memiliki makna menyerah dalam pertarungan.
    3.       Pembaca teks
    Hal yang dituntut seorang hermenet adalah melakukan kajian kritis untuk mendapatkan pemahaman yang lengkap dan sesuai dengan tujuan pengarang menulis teks. Hasil penafsiran hermenet dalam menafsirkan teks juga tidak luput dari factor lingkungan yang disekitarnya, baik itu factor ekonomi , social dan politik pada waktu itu.

    Perbedaan tafsir dan hermeneutika yang paling mendasar
    Prof. Dr Wan Muh Noer  Wan Daud, guru besar pemikiran islam di institute Internasional Pemikiran dan Peradaban Islam ( ISTAC) di Malaysia, menyatakan, “ sesungguhnya penafsiran Al-qur’an sama sekali tidak boleh disamakan dengan hermeneutika yunani dengan cara apapun.
    Pertama, tidak adanya keyakinan dan kebenaran teks-teks Bibel menurut pakar Barat sebab tidak ada bukti-bukti materiil yang meyakinkan dari teks-teks bible yang awal.
    Kedua, tidak ada ketetapan-ketetapan dari penafsiran-penafsiran yang dapat diterima menurut umum, termasuk didalamnya tidak adanya tradisi seperti ijma’ dan mutawatir sebagaimana kondisi umat islam.
    Ketiga, tidak ada sekumpulan manusia yang hafal teks-teks yang hilang dan dilupakan selama perjalanan sejarah.
    Keempat, tiga permasalahan tersebut sama sekali tidak ditemukan dalam tradisi peradaban islam.
    ( Salim Fahmi. kritik terhadap studi alqur’an kaum liberal, hlm.80 )
    Tokoh hermenet islam dan hasil pemikiranya
    Perkembangan hermeneutika yang meluas pada abad 19 dan 20 didunia barat sampai juga ke dunia islam. Saking kuatnya banyak dari pemikir islam yang beranggapan bahwa penggunaan hermeneutika saat ini sangatlah relevan untuk memecahkan masalah kekinian.   Dan kitab suci umat islam saat ini banyak sekali persoalan persoalan yang tidak relevan dengan perkembangan masa. Singkatnya menurut mereka alqur’an perlu untuk ditafsirkan ulang agar sampai kepada makna yang sesungguhnya ketika alqu’ran itu diturunkan.
    1.     Muhammad Arkoun
    Arkoun berasal dari Aljazair Afrika Utara yang kini berada di eropa. Dia sangat mendukung sekali untuk penerapan metodologi studi Al-qur’an dengan menggunakan hermeneutika. dan menyayangkan juga jika sarjana muslim tidak mau mengikuti jejak kaum Yahudi-Kristen.
    Studinya menggunakan hermeneutika menghasilkan pemikiran bahwa Mushaf Utsmani tidak lain hanyalah hasil social dan budaya masyarakat yang dijadikan “tak terfikirkan” disebabkan semata-mata kekuatan dan pemaksaan penguasa resmi. Dan mencapai pemakaian liberal dengan dekonstruksi konsep teks kitab suci. Melalui pendekatan historisitas.
    2.     Nashr Hamid Abu Zayd
    Tokoh berkebangsaan Mesir yang telah divonis murtad oleh Mahkamah Agung Mesir 1996. Hermenet yang terkenal dengan studinya mengunakan pendekatan teks sastra. Hasil pemikiranya yang terkenal yaitu pendapatnya bahwa teks ilahi yang berasal dari langit yang diturunkan kepada Nabi telah berubah menjadi teks manusiawi karena telah berubah dari tanzil menjadi takwil. Produk ijtihadnya yang menyimpang lainya adalah dia mempercayai bahwa jin dan syetan adalah sebuah mitos.
                Selain kedua tokoh diatas ada juga Fazlur Rahman yang harus hengkang dari Pakistan ke Chicago Amerika, guru Nurcholish Madjid yang mempunyai metodelogi hermeneutika serupa dengan Muhammad arkon yaitu pendekatan historisitas terhadap teks.
     Di Indonesia faham ini diajarkan untuk kalangan para mahasiswa muda yang belajar di perguruan tinggi islam, seperti uin Yogyakarta dan paramadina yang dianggap sekolahnya para jebolan JIL ( Jaringan Islam Liberal ). Dan justru anehnya para pemikir islam dewasa ini banyak yang berbondong -bondong mempelajari sekaligus menggunakan metode ini untuk digunakan dalam pengkajian studi Alqur’an. Seolah tidak yakin lagi dengan tafsirnya umat islam. Sebagian mereka berfikir tafsir islam memiliki metodologi yang baku yang tidak bisa memberikan ruang bebas untuk berfikir secar lebih mendalam. Oleh karena itu penerapan hermeneutika menjadi sangat dibutuhkan saat ini dan sebagai upaya menghindari kejumudan pemikiran di kalangan pemikir islam.  
    Hasil konkret pemikiran akibat mengusung hermeneutika ini diantaranya melahirkan buku Fiqiih Lintas Agama terbitan paramadina dan juga Kompilasi Hukum Islam.
    Contoh penerapan hermeneutika untuk studi teks Al-qu’an
    1.     Penafsiran yan sembrono dari pada surat Al-Maidah ayat 90 :

    }}يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ{{

    Artinya : “ wahai oran-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, ( berkurban untuk ) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu beruntung”.
    Menurut pengusung hermeneutika dalam ayat ini secara teksnya memang menunjukkan arti pengharaman untuk meminum khamr namun secara kontekstual ayat ini sesungguhnya tidak mengharamkan khmr karena Negara arab udaranya sangatlah panas sehingga apabila suatu Negara itu udaranya sangatlah dingin dan bisa dijadikan untuk obat maka dalam hal ini khmr tidaklah haram untuk dikonsumsi.
    2.     Penafsiran ngawur seorang musyda mulya pada surat Al-Mumtahanah ayat 10 :


    }}يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا جَاءَكُمُ الْمُؤْمِنَاتُ مُهَاجِرَاتٍ فَامْتَحِنُوهُنَّ ۖ اللَّهُ أَعْلَمُ بِإِيمَانِهِنَّ ۖ فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ ۖ لَا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ ۖ وَآتُوهُمْ مَا أَنْفَقُوا ۚ وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ أَنْ تَنْكِحُوهُنَّ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ ۚ وَلَا تُمْسِكُوا بِعِصَمِ الْكَوَافِرِ وَاسْأَلُوا مَا أَنْفَقْتُمْ وَلْيَسْأَلُوا مَا أَنْفَقُوا ۚ ذَٰلِكُمْ حُكْمُ اللَّهِ ۖ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ ۚ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ{{


    Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka;maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka. Dan berikanlah kepada (suami suami) mereka, mahar yang telah mereka bayar. Dan tiada dosa atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir; dan hendaklah kamu minta mahar yang telah kamu bayar; dan hendaklah mereka meminta mahar yang telah mereka bayar. Demikianlah hukum Allah yang ditetapkan-Nya di antara kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

      فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ pada ayat ini menunjukkan pengharaman kepada muslimah untuk menikah dengan orang kafir secara teksnya. Namun secara kontekstual ayat menunjukkan makna bahwa pengharaman tersebut karena umat islam pada waktu itu dalam kondisi perang. Sedangkan sekarang sudah tidak pada zaman perang lagi sehingga tidak mengapa seorang muslimah menikah dengan laki-laki non muslim.




    Sumber bacaan :
    1.     Metodelogi Bibel dalam studi Al-qur’an karya Adnin Armas, M.A
    2.     Kritik terhadap studi Al-Qur’an kaum Liberal karya Fahmi Salim, M.A
    3.     Wajah peradaban barat karya Adian Husaini
    4.     Beberapa situs  internet

      

    Posting Komentar