• Breaking News

    Minggu, 20 Desember 2015

    Pemuda hari ini



    Pemuda hari ini
    Oleh : Gusri Ujang

    Ketika anak-anak dinegeri Jepang sana antrian dihalte-halte pemberhentian bus dipagi buta- atau di stasiun-stasiun kereta api agar tidak ketinggalan kereta menuju kesekolah-sekolah mereka, kita sebagai anak bangsa Indonesia untuk dibangunkan dipagi hari saja susahnya kepalang minta ampun, harus digedor-gedor terlebih dahulu, digelitiki, dicubit, ditendang dan dimarahi, dengan cara begitulah baru hendak bangun memulai aktivitas disempitnya waktu yang tersisa penuh ketergesa-gesaan. Hal itu terjadi dimana-mana, baik itu dirumah bagi anak remaja yang tinggal bersama orang tua mereka, ataupun bagi mereka yang “numpang” dipesantren sekalipun, mereka terlihat sangat tak kuasa untuk segera membersihkan duri-duri kantuk yang menghujami mata-mata mereka dipagi hari untuk lekas bergerak memulai kegiatan dengan penuh semangat, sekalipun tidurnya dimalam hari sangat pantas untuk dibilang cukup. Belum lagi di sore hari, mereka harus dibentak-bentak untuk mau mandi, harus didorong-dorong agar segera berangkat ke Taman Pendidikan Alqur’an (TPA) dengan cepat. Ya, Ini belum lagi  membahas tentang kesungguhan mereka dalam belajar dan mengaji. Jika masalah bangun pagi, masalah mandi, masalah berangkat kesekolah saja remaja-remaja kita masih bermasalah, lantas kapan dan bagaimana impian kita bersama bisa segera terwujud  untuk membangun peradaban seperti halnya  Jepang, Jerman, Inggris, Perancis, dan Australia?.

    Ini jika kita bercerita tentang mereka yang berada di pesantren yang notabene masih kental dengan pelajaran agama dan moral, shalat berjama’ah masih dilakukan secara rutin, puasa sunnah senin kamis masih menjadi program utama dalam menggapai ridho ilahi, lantunan ayat-ayat alqur’an masih semarak didendangkan, kajian hadis dan fikih tak alfa sebagai pengganti malam mingguan, adat sopan santun dalam bermuamalah yang terus terjaga  dan lain sebagainya. Lantas bagaimana yang di luar pesantren sana? Masalah pacar saja sampai tawuran dan saling menjalin permusuhan, saat terjadi sedikit kesenjangan pendapat dengan keluarga larinya ke miras, sabu-sabu dan narkoba. Baru lihat majalah dewasa saja langsung praktek onani, masturbasi bahkan prilaku seks bebas yang dilakukan di losmen-losmen tanpa adanya rasa malu, terutama malu pada Allah SWT. Jadi sangat Wajar ketika dewasa mereka merusak negara dengan korupsi, perbuatan amoral, dan berbagai hal buruk lainnya. Jika masalah-masalah kecil saja belum mampu mereka atasi, bagaimana mau memikirkan soal teori-teori fisika, rumus-rumus matematika, hukum-hukum ekonomi, butir-butir kimia dan berbagai bidang iptek lainnya? yang secara serius kesemua itu membutuhkan konsentrasi penuh dan kesadaran tinggi yang dimulai dari diri sendiri setiap pribadi insan suatu negara?? Bahkan kini perpus-perpus sekolah sudah mulai sepi dari siswa-siswi yang berasyik-masyuk membaca buku. Waktu luang di sekolah dipakai untuk online di Hp atau notebook. Asyik saling berkiriman pesan dengan teman-teman atau lawan jenis yang baru dikenali menghabiskan ribuan bonus gratis SMS yang diberikan secara cuma-cuma kepada para pelanggan setia, hingga mereka lupa waktu dan makan. Ketika pulang lebih memilih nongkrong di warung kopi atau di mal-mal daripada ikut bimbingan belajar. Atau hanya sekedar menghabiskan indahnya malam dengan cerita ngidul sana-sini dengan teman-teman sejawat, dihangatkan secangkir kopi dan sederetan rokok bak kereta yang tak kunjung berhenti dibibirnya, atau sibuk dengan game-game yang sama sekali tidak memberi manfaat lahir batin kecuali hanya kerugian waktu dan kantong orang tua. Bahkan ironisnya lagi, nasihat dan perkataan orang tua tidak lagi diindahkan dan diutamakan namun dibelakangi dan diabaikan. Hingga terlahirlah generasi-generasi durjana yang tercipta secara perlahan didalam sebuah komplek kehidupan yang disebut lingkungan dan pergaulan.

    Benar, lingkungan yang merupakan tempat dimana seorang insan terus bernafas dan bergerak dengan segala pergaulannya, ternyata telah membentuk seseorang menurut apa yang diajarkan dalam lingkungan dan pergaulan itu. Saat lingkungan dan pergaulan itu baik, besar harapan hasil yang diberikan baik dan membanggakan semua pihak, namun saat keduanya tidak lagi mengipaskan bau yang sedap, seuntaian permatapun berdebu karenanya. Benarlah apa yang disampaikan oleh Rasulullullah SAW didalam sebuah hadisnya yang maknanya bahwa seseorang yang bertemankan penjual minyak wangi, minimalnya percikan wewangian tersebut sudi menghampirinya dan iapun harum karenanya  dan mereka yang bertemankan situkang besi, karat besi itu akan membuat tubuhnya ikut terserang sengatan baunya. Maka jelaslah bahwa seseorang itu tergantung dengan temannya.

    Maka dari seuntai kegelisahan diatas, sungguh saya belum bisa menggambarkan bagaimana keadaan Indonesia di masa 20 tahun mendatang, namun saya tak yakin semua akan lebih baik jika generasi anak remaja yang lahir ditahun 2000an seperti sekarang ini wajahnya. Di saat seperti ini saya hanya bisa menyepi di ruang khayal negeri Libya untuk menyatukan kata perkata, menyusunnya hingga menjadi sebuah kalimat, semoga saja kalimat itu berantai menjadi banyak paragraph yang mampu mengobati dilema yang sedang menjangkiti para remaja yang hidup diera ini .
    ***
    Dalam dilema ini, saya diingatkan akan para pemuda dizaman Rasululllah SAW. Bagaimana seorang Usamah bin Zaid pada perang Uhud merengek pada Rasulullah SAW agar diizinkan untuk ikut berperang, namun ia kembali pulang dalam keadaan menangis karena belum mendapat restu dari Rasulullah SAW. Pada perang Khandaq hal serupapun terjadi, ia berdiri diantara teman sebayanya agar terlihat dewasa dan siap mengikuti perang, karena keras hatinya, Rasulullah SAW pun pada akhirnya memberikan izin, lalu dengan bangganya iapun menyandang sebilah pedang, padahal saat itu ia baru berumur 15 tahun.

    Bagaimana pula seorang Sa’ad bin Mu’adz menerima islam disaat ia menginjak usia 30 tahun (usia yang tergolong masih muda diantara sahabat-sahabat Nabi yang  lain) , lalu iapun wafat saat berusia 36 tahun, namun kematiannya mengguncang arsy ar-Rahman atas apa yang ia berikan untuk islam.

    Bagaimana pula dengan Musaib bin Umair seorang pemuda tampan, cerdas dan kaya, namun ia harus kehilangan semua itu ketika ia harus mempertahankan akidah dan imannya kepada Allah SWT. dan rasulNya yang mulia  dan pada akhir hayatnya iapun tercatat sebagai syahid menemui Allah SWT. kematiannya meninggalkan duka bagi seluruh kaum muslimin bahkan Nabi SAW bersedih karenanya. Karena kemiskinannya diakhir hayatnya , tak sehelaipun kain kafan yang layak untuk menutupi jasadnya kecuali sehelai kain burdah, kain yang bila ditaruh dibagian kepala, terbukalah kedua kakinya, sebaliknya bila ditutupi bagian kakinya maka terbukalah kepalanya. Sehingga rasulullah bersabda : tutupkanlah kebagian kepalanya dan kakinya tutupi dengan rumput idkhir. 

    Masih banyak lagi sahabat muda dizaman rasulullah dan dan zaman-zaman berikut setelahnya yang memiliki predikat tinggi dalam kehidupannya untuk agama dan bangsanya. Mereka adalah orang-orang teladan bagi pemuda/i muslim. Mereka mengajarkan bahwa dunia ini tidak ada artinya jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat. Mereka adalah pemuda-pemuda cerdas yang gemar menuntut ilmu, mengamalkannya dan mendakwahkannya dengan argumentasi yang sangat meyakinkan bagi sesiapa yang menyimaknya. Bahkan musuh-musuhpun takluk dihadapannya, karenanya.

    Dan bagi  kita  remaja dan pemuda hari ini, kontribusi apa yang sudah kita berikan untuk agama dan bangsa ini? Atau barangkali pertanyaannya yang lebih tepat, apa yang sudah kita berikan untuk diri kita sendiri…??

    Posting Komentar