• Breaking News

    Rabu, 03 Februari 2016

    For You Amak



    For You Amak

    by. Gusri

    Masih ingatkah sahabat sebuah kisah yang sangat mengharukan yang terjadi di Saudi Arabia. Disuatu waktu, disalah satu pengadilan Qasim Saudi Arabia, berdiri Hizan al Fuhaidi dengan air mata yang bercucuran sehingga membasahi janggutnya, Kenapa? Karena ia kalah terhadap perseteruannya dengan saudara kandungnya.
    Apakah yang diperseterukan dengan saudaranya?, masalah tanah kah? atau warisan yang mereka saling perebutkan? Atau harta yang lain?.
    Jawabannya, Bukan!!.
    Ia kalah terhadap saudaranya terkait perebutan asuh ibunya yang sudah tua renta. Seorang ibu yang hanya memakai sebuah cincin timah di jarinya yang telah keriput. Seumur hidupnya, beliau tinggal dengan Hizan yang selama ini menjaganya. Tatkala beliau telah manula, datanglah adiknya yang tinggal di kota lain, untuk mengambil ibunya agar tinggal bersamanya, dengan alasan fasilitas kesehatan dan lain sebagainya, tentunya di kota jauh lebih lengkap daripada di desa, akan tetapi Hizan menolak dengan alasan, selama ini ia mampu untuk menjaga ibunya. Sayangnya Perseteruan ini tidak berhenti sampai di situ, namun berlanjut ke pengadilan. Sidang demi sidang dilalui, hingga sang hakim pun meminta agar sang ibu dihadirkan di majelis. Kedua bersaudara ini membopong ibunya yang sudah tua renta yang beratnya sudah tidak sampai 40 Kg. Sang Hakim bertanya kepada sang ibu, siapa yang lebih berhak tinggal bersamanya?, ibu memahami pertanyaan sang hakim, ia pun menjawab, sambil menunjuk ke Hizan: “Ini mata kanank!” kemudian menunjuk ke adiknya sambil berkata: “Ini mata kiriku!, Sang Hakim berpikir sejenak kemudian memutuskan hak kepada adik Hizan, berdasarkan kemaslahatan bagi si ibu.

    Betapa mulia air mata yang dikucurkan oleh Hizan. Air mata penyesalan karena tidak bisa merawat ibunya tatkala beliau telah menginjak usia lanjutnya. Betapa terhormat dan agungnya sang ibu, yang diperebutkan oleh anak-anaknya hingga seperti ini. Andaikata kita bisa memahami, bagaimana sang ibu mendidik kedua putranya hingga ia menjadi ratu dan mutiara termahal bagi anak-anaknya.

    Ini adalah pelajaran mahal tentang berbakti kepada orang tua, dimana hari ini durhaka kepada orang tua sudah menjadi budaya. Kejahatan tidak lagi dilakukan pada orang-orang yang tidak dikenal, namun ditujukan secara khusus kepada ibunya. Tidak jarang kita dengar seorang anak menghardik bahkan memukul sang ibu, saat itu ibu hanya bisa menangis tersedu, meratapi kedurjanaan sang buah hati. Ketahuilah sahabat, tidak ada ibu yang menginginkan keburukan buat anak-anaknya. Tidak ada ibu yang rela anaknya ditindas kemiskinan dan kelaparan, tidak ada ibu yang tahan memandang baju lusuh yang dipakai sang buah hati. Tidak ada ibu yang kuat menyaksikan anaknya bodoh sekalipun ia tidak berpendidikan. Ibu akan terus berbuat semampu dan sekuat tenaga demi menyelamatkan anak-anaknya dari berbagai warna kehidupan yang suka mencela, ibu rela berbaju lusuh asal anaknya indah dipandang orang, ibu juga rela memakan kerak asalkan anaknya makan nasi putih, ibu pun sangat tabah tubuhnya yang mungil dijemur dibawah terik matahari demi mengumpulkan biji-biji beras yang akan disuap oleh anak-anaknya dipetang hari, Hanya saja anak jarang memahami itu dengan benar, prasangkanya terhadap ibu sering tidak pada tempatnya. Keegoisannya sering intoleril. Bahkan untuk sekedar membantu hal-hal kecil didapur saja menolak dengan pongah hanya karna segan ditertawakan teman sebaya, hari ulang tahun semua sahabat hapal namun hari ibu saja tidak pernah mau peduli. Jangankan membelikan kado, tanggal lahir ibupun tidak mengetahuinya. Ibu tetaplah ibu, ia hanya berpura-pura tidak tahu, menganggap semua kekasaran yang melintas dipendengarannya adalah angin lalu atau ucapan yang terucap dibibir judes adalah sebuah kekilafan buah hati, sekalipun itu sering terjadi. Bila hal itu sudah benar menyesakkan dadanya, barulah ibu tertunduk berurai air mata, disepertiga malam terakhir ibu pun menyungkur dihadapan rabbi mendoakan beribu kebaikan untuk sang buah hati. Begitu kasih seorang ibu. Jarang ibu yang suka melaknat dan mengutuk, karna kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang pinggalan. Sekali ibu melaknat seolah sambaran petir disaat  derasnya hujan, mengenai tepat sasaran tanpa ada yang menghalangi maka jadilah malin kundang yang terhalang dari rahmat. Sekali ibu berdoapun Allah enggan memberi batas diantara mereka berdua, hijabnya terlepas menembus langit ketujuh bersimpuh menghadap tuhan di Sidratul Muntaha.

    Tapi apa daya, seorang anak tetap pada posisinya. Bahkan jumlah  yang banyak tidak mengurangi beban dan kesulitan ibu, malah semakin menghimpitnya diatas himpitan. Seorang ibu Seolah hendak mengeluh, namun tidaklah ibu mengeluh, ibu tetap tersenyum menghadapi kesulitan hidup bersama anak-anak yang sangat sedikit membawa kebahagian untuknya. Harapannya luas dan jauh. Menjadi anak sholeh yang tahu siapa dirinya, walau disuatu hari. Benarlah pepatah arab mengatakan: seorang ibu mampu menjaga sepuluh anak, Namun terkadang sepuluh anak tidak mampu menjaga seorang ibu.

    Perhatikanlah butir-butir kalimat berikut  dengan penuh tadabbur:

    bergulirnya waktu tiada yang tau dan banyak yang tak perduli. disubuh buta teringat beberapa lembaran waktu dimasa silam, dalam pangkuan denyut nadi sang ibu, ia merintih menderita, membawa kehamilan yg kian hari berat yang terasa, tanpa resah dan keluh. Dan suatu ketika dimana aku melihat alam yang berkilau bagaikan matahari dikelopak mata, dimana aku terlahir kedunia, dunia yang penuh tawa, tangis, dan cerita.
    bergulirnya waktu tiada yang tau dan banyak yang tak perduli. kala itu aku menangis, 'ibu, aku mau minum, ? aku haus ibu, Dengan desah aku meminta. Tanpa basa basi ibu memberi, seketika aku hening dalam pangkuan dada ibu kala itu.
    bergulirnya waktu tiada yang tau dan banyak yang tak perduli. Ibu aku sakit? Sakit sekali ibu. Dengan deraian air mata ia peras tubuhnya untuk kesembuhanku, ia rela kesakitan yang kurasa dipikulkan dipundaknya, biar lah ibu yang sakit asalkan kau sembuh, anakku.
    bergulirnya waktu tiada yang tau dan banyak yang tak perduli. ibu aku mau sekolah? Dengan nada serempak ia iringi semangatku, ‘’tiada yang lebih mulia bagiku selain kau lebih cerdas dariku duhai anakku, tangkasnya.
    bergulirnya waktu tiada yang tau dan banyak yang tak perduli. Kini aku tumbuh dewasa, dewasaku belum mebawa kebahagian untuk ibu, namun ibu tetap tersenyum jauh disana, ibu sudah merasa bangga diatas bangga, terimakasih ibu.
    bergulirnya waktu tiada yang tau dan banyak yang tak perduli. Maafkan aku ibu, aku sadar, betapa perjuanganku tidak lebih sulit dari juangmu, jalanku pasti tidak seberliku jalanmu, hatiku tentu tidak setulus dan semulia hatimu. Air mataku tidak mengalir bagai tumpahan airmatamu, kesabaranmu mengandungku, melahirkanku dan membesarkanku adalah perjalanan panjang penuh onak dan duri yang hingga kapanpun tak kan pernah mampu ku balas walau dengan segenapa ruh dan jiwaku, terimaksih ibu. Bergulirnya waktu tiada yang tau dan banyak yang tak perduli . ibu, sangat sedikit sekali yang aku tuliskan untukmu ibu, aku merasa letih, bahkan letih ini ingin kau genggam bersama keletihanmu, maafkan aku ibu.
    Maafkan aku.

    اللهم اغفرلي ولوالدى وارحمهما كما ربيانى صغيرا

    Posting Komentar