• Breaking News

    Kamis, 07 April 2016

    Materi Marhala Dasar, Belajar Bahasa Arab KKMI Libya Via WhatsApp

    الكَلَأمُ
    (   Al-kalam )
    A.    تَعْرِيْفُ الكَلَامِ  ( Pengertian Kalam )
                الكَلَام ( Kalam ) berasal dari Bahasa Arab, yaitu كَلَّمَ - يُكَلِّمُ  yang artinya berbicara. Sedangkan, kata الكَلَام artinya perkataan atau pembicaraan. Definisi Kalam menurut Ahli Nahwu النَحْوُ   adalah :
    الكَلاَمُ هُوَ اللَّفْـــظُ المُرَكَبُ المُفِيْدُ بِالوَضْـعِ
    Kalam adalah suatu perkataan yang tersusun yang memberikan faedah atau makna yang lengkap.
    Jadi, Kalam dalam Bahasa Arab  memiliki 4 syarat, yaitu :
    1-      اللّفْظُ ( Al-lafzu ) yaitu suara ucapan kalimat atau perkataan.
    Contohnya : المَسْجِدُ  ( Masjid ) كِتَابُ  ( Kitab ) كُرَّاسَةٌ ( Buku tulis ) قَلَمٌ  ( Pena ) dan lain sebagainya.

    2-      الْمُرَكَبُ ( Al-Murakabu ) yaitu yang tersusun, kalam yang kita ucapkan mesti tersusun dari dua kata atau tiga kata atau lebih dari itu.
    Contohnya : ذَهَبَ مُحَمَّدٌ إِلى المَدْرَسَة  ( Muhammad pergi ke sekolah )
    مُحَمَّدٌ قَائِمٌ  ( Muhammad sedang berdiri )
    أَنَا أجْلِسُ عَلَى الكُرْسِيِّ  ( saya duduk diatas kursi )
    Jika suatu kalimat yang tidak tersusun maka tidak di sebut مُرَكَبٌ  ( murakab ),
     Contoh yang tidak murakab :ذَهَبَ َ  ( pergi )
    الكُرِسِيِّ  ( kursi )
    Jika kalimat kurang dari dua kata maka tidak memberikan makna dan tidak di sebut murakab seperti contoh diatas.

    3-     الْمُفِيْدُ ( Al-Mufidu ) yaitu yang memberikan makna atau arti, menurut ilmu النَحْوُ  ( Nahwu ) :
    اللَّفْظُ المُفِيْدُ فَائِدَةً يَحْسُنُ السُكُوْتُ مِنَ المُتَكَلِّمِ وَالسَّامِعِ عَلَيْهَا    
    Yaitu suatu ungkapan  faidah yang memberikan pemahaman sehingga pendengarnya merasa puas dari pembeciranya.
    Contohnya :
    Jika pembicara hanya mengatakan  إِلَى ( Ke ) maka kalimat yang di ungkapkan oleh pembicara tidak dapat di pahami oleh pendengar karna ucapannya tidak mufid, atau hanya mengatakan المَدْرَسَةُ  ( sekolah ) saja tanpa melengkapi kalimat nya, maka yang mendengar akan bertanya –tanya , sekolah apa yang di maksud ? dan sekolah mana yang di maksud ? oleh karenanya, susunan kalimat  haruslah di lengkapi supaya menjadi mufid sehingga pendengar bisa memahami apa yang di ungkapkannya itu, contohnya :           ذَهَبَ مُحَمَّدٌ إِلى المَدْرَسَةِ  ( Muhammad pergi ke sekolah ).

    4-      الْؤَضْعُ ( Al-Wad’u ) Yaitu menjadikan lafaz agar menunjukan suatu makna atau memiliki arti, maksudnya, kalimat yang di ungkapkan harus Bahasa Arab dengan sengaja, jika kalimat Bahasa Arab  keluar dari orang yang mengigau maka kalimat itu tidak termasuk      الوَضْعُ  ( wad’u ) karena kalimat yang di ungkapkannya itu tidak mengandunag makna. Kenapa harus dengan Bahasa Arab ? karena Ilmu Nahwu itu menjelaskan tentang kaidah Bahasa Arab.

    B.     تَقْسِيْمُ الكَلَامِ  ( Pembagian Kalam )
                            Kalam terbagi menjadi tiga, yaitu:
    1-      الاِسْمُ   ( isim ) yaitu kata benda atau nama.
    Menurut Ilmu Nahwu, الاِسْمُ  (Isim) ialah :
    الاِسْمُ هُوَ مَا دَالَ عَلَى مَعنَى فِي نَفْسِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَـقْـتَرِنَ بِزَمَنٍ
    Isim adalah Suatu kata benda atau nama yang mengandung makna didalamnya  tanpa disertai  zaman atau waktu.
    Contoh lain    :
    كُرَّاسَةٌ       : Buku
    سَيَّارَةٌ       : Mobil
    هَذَا / هَذِهِ    : Ini (P)
    مَدْرَسَةٌ      : Sekolah
    كُوْبٌ        : Gelas
    ذَلِكَ / تِلْكَ   : Itu ( L )
    قَلَمٌ            : Pena
    حُجْرَةٌ       : Kamar
    هُنَا             : Disini
    زَيْدٌ           : Zaid ( nama orang )
    فَصْلٌ        : Kelas
    هُنَاكَ          : Disana
    مُحَمَّدٌ       : Muhammad ( nama orang )
    طَرِيْقٌ       : Jalan

    Dan lain sebagainya, contoh yang diatas semuanya mengandung makna dan setiap maknanya itu tidak  menunjukan kepada waktu, maka itulah disebut Isim dengan kata lain ialah kata benda.

    2-      الفِعْلُ   ( Fi’il ) yaitu kata kerja.
    Menurut Ilmu Nahwu,  الفِعْلُ  ( Fi’il ) ialah :
    مَايَدُلُّ عَلَى حَدَثِ الفِـعْلِ وَاقْـتَرَنَ بِزَمَنٍ
    Sesuatu yang menunjukan kepada kegiatan atau perbuatan dan perbuatan itu disertai dengan waktu.

    3-      الحَرْفُ   ( Huruf ) Kata sambung
    Menurut Ilmu Nahwu huruf adalah :
    مَادَلَّ عَلَى مَعْنَى فِي غَيْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَـقْـتَرِنَ بِزَمَنٍ
    Huruf ( kata sambung ) yang menunjukan kepada makna huruf itu sendiri jika di rangkai dengan kalimat yang lain tanpa di sertai waktu.





    C.    التَّطْبِيْقُ  ( Praktek )

    الطَالِبُ يَذْهَبُ إِلَى المَدْرَسَةِ
     وَ هُنَاكَ فُصُوْلٌ وَ فِي الفَصْلِ سَبُّوْرَةٌ  وَ مَكْتَبٌ وَ كُرْسِيٌّ وَ غَيْرُ ذَالِكَ.
    عَلَى المَكْتَبِ كِتَابٌ وَ كُرَّاسَةٌ وَ قَلَمٌ .
    الطَالِبُ يَكْتُبُ الدَرْسَ عَلَى الكًرَّاسَةِ,
    قَدْ ذَهَبَ زَيْدٌ إلَى المَسْجِدِ وَ فِي المَسْجِدِ قُرْآنٌ وَ بِسَاطٌ وَ سَجَدَةٌ ,
     ثُمَ يَجْلِسُ زَيْدٌ عَلَى البِسَاطِ
     “Seorang pelajar pergi ke sekolah,
    Dan disana terdapat beberapa kelas. Dan didalam kelas ada papan tulis, meja, kursi dan lain sebagainya.
    Diatas meja ada kitab, buku tulis dan pena.
     Seorang pelajar menulis pelajaran di buku tulis.
    Zaid telah pergi ke mesjid, didalam mesjid ada Qur’an, karpet, dan sajadah.
    Kemudian Zaid duduk diatas karpet”.


    D.    التَلْخِيْصُ( Rangkuman )