• Breaking News

    Senin, 04 Mei 2015

    Semaraknya mau’idzah hasanah namun terkikisnya uswatun hasanah

    Semaraknya mau’idzah hasanah namun 
    terkikisnya uswatun hasanah
    Agus mujib
    (Mahasiswa Tahun 2 Kulliyah)

    Seiring bergulirnya waktu banyak sekali perubahan yang menimpa kehidupan manusia. Islam sebagai agama yang dilahirkan untuk menerangi umat manusia memiliki peranan yang sangat urgen dalam mengantarkan dan memposisikan manusia sebagai makhluk ciptaan Allah yang paling mulia diantara makhluk-makhluk yang lain. Cukuplah menjadi dalil bahwa iblis dan malaikatpun diperintah untuk bersujud kepada Adam.

    Islam dari awal berdirinya hingga saat ini berperan dalam mengarahkan umat manusia kepada akhlak yang mulia baik secara individu maupun sosial bahkan terhadap alam dan segala isinya. oleh karena itu, sebagai umat terbaik disisi Allah, umat islam mempunyai tugas yang mulia yaitu menyeru kepada yang baik dan mencegah kepada yang munkar. Namun, dewasa ini kita banyak menyaksikan disekitar kita banyak sekali para muballigh, para khatib, para motivator dan lain sebagainya yang sangat pandai sekali beretorika menyampaikan nasihat-nasihat yang mulia untuk menyeru kepada kebaikan yang sesuai dengan agama islam namun kalau boleh jujur masih sedikit sekali sosok sebenarnya yang kita temukan dalam kehidupan kita sebagai suri tauladan yang baik.

    Sejatinya memang benar kita sebagai umat islam memiliki tugas yang mulia yaitu amar ma’ruf nahi munkar. Dengan tugas ini kita ditempatkan sebagai sebaik-baiknya umat. Sebagaimna Allah berfirman : “kamu (umat islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia ( karena kamu)menyuruh (berbuat) yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahlul kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.( Al imran3 ;110).

    Dengan tugas ini kita dituntut untuk menjalankannya dengan sebaik-baiknya melalui seruan-seruan kepada manusia agar melaksanakan yang ma’ruf dan menjauhi yang munkar. Hal ini sekiranya bisa kita mulai dengan metode dakwah yang ada dan berbagai wasilah yang bisa kita manfaatkan seperti ketika khutbah jumat, khutbah nikah, peringatan-peringatan hari besar islam dan juga memanfaatkan media sosial yang semakin banyak diminati banyak orang dan mulai menjadi kebutuhan pokok kebanyakan orang. Baik secara lisan maupun tulisan kita bisa melaksanakan tugas ini sehingga bisa dibaca dan didengar oleh banyak orang.

    Inilah yang kita sebut mauidzah hasanah berupa nasihat-nasihat atau arahan-arahan yang diharapkan mengubah prilaku manusia dari yang buruk menjadi yang baik sesuai yang diharapkan agama. Namun sayang sungguh sayang, terkadang hal ini tidak seimbang dengan praktek yang terjadi. Setiap jumat kita mendengarkan khutbah di masjid yang intinya menyeru kepada taqwa namun ujung-ujungnya masih saja ada yang kehilangan sandal ketika hendak pulang. Setiap tahun kita memperingati Maulid Nabi, namun masih banyak orang yang melalaikan sunah nabi dan prilaku yang diajarkan nabi. Setiap tahun kita melaksanakan ibadah puasa ramadhan namun ketika ramadhan telah selesai, maka selesai pula amalan- amalan yang biasa kita lakukan pada bulan tersebut.

    Artinya semua itu akan berlalu begitu saja tanpa diimbangi atau diaplikasikan dalam keseharian kita. Namun sayangnya masih minim sekali suri tauladan yang bisa kita ikuti. Minim sekali kesadaran akan hal ini sehingga berapa banyak nasihat dan arahan yang terlontar berlalu begitu saja bagai debu yang terhempas angin.

    Implementasi dari teori-teori tersebut seharusnya kita praktekkan dengan segera dan kontinyu sehingga sebagai agen dakwah sejatinya harus menjadi suri tauladan yang baik ditengah masyarakat. Ilmu yang diperoleh hendaknya segera diaplikasikan karena hal ini merupakan yang terpenting dan sangatlah urgen untuk kemajuan islam. Mungkin naudzubillah, mudah-mudahan kita dijauhkan dari banyak menyeru namun tidak mempraktikan apa yang kita seru sehingga malah menjadi dosa yang tentunya tidak diinginkan. Sebagaimana Allah berfirman : “wahai orang-orang yang beriman mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?.(itu) sangatlah dibenci disisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.( As Saff 61 :2-3).

    Karena yang lebih penting dari dakwah atau seruan adalah selain kemampuan retorika yang dimilki seseorang untuk menyampaikan manhaj ad diin , maka yang lebih penting adalah pengejewantahan dari itu semua sehingga menjadi publik figur ditengah masyarakat. Sebagaimana apa yang dicontohkan nabi Muhammad SAW. Beliau sebagai uswatun hasanah dan juga sebagai muballigh yang senantiasa menyampaikan ma’ruf nahi munkar sebagaimana disebutkan dalam al qur’an surah Al Ahzab ayat 21 ; “sungguh,telah ada pada (diri) rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap(rahmat) Allah dan (kedatangan)hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah.

    Sejatinya, aplikasi dari manhaj yang ada dalam islam harus banyak kita praktekan karena hal ini sangatlah disukai Allah daripada banyak menyeru kepada kebaikan namun kita sendiri terjerumus dalam kecerobohan dengan melalaikan praktek beragama dalam pribadi kita kemudian menjadi penggerak bagi yang lain. Nabi Muhammad bersabda yang artinya :” amalan yang paling dicintai disisi Allah adalah yang dilakukan secara kontinyu walaupun sedikit”.

    Dengan berperan sebagai publik figur yang kuat ditengah khalayak ramai setidaknya praktek beragama bisa terwujud dalam kehidupan masyarakat dan mampu mengatasi krisis uswatun hasanah yang mulai melanda kehidupan kita karena mungkin kebanyakan dari kita lebih banyak tergiur kehidupan dunia daripada hakikat sebenarnya sehingga agamapun dijadikan sebagai ladang bisnis yang berpotensi untuk meningkatkan kekayaan dan kedudukan dunia sehingga misi yang menjadi tujuan agama tidak tercapai dengan baik.

    Berlomba-lomba menjadi uswatun hasanah karena ini merupakan tugas muslim sebenarnya sebagai agen yang membawa umat islam sebagai umat yang terdepan. Hal ini juga yang selalu menjadi pegangan para sahabat dan para tabiin dalam menyampaikan dakwahnya. Mungkin tidak semua sahabat sangat memahami ilmu agama seperti Khalid ibn Walid yang bisa dibilang kemampuan tafaqquh fi diin yang lebih sedikit daripada Ibnu Abbas dan yang lainnya, namun mereka senantiasa mempraktikan apa yang diajarkan oleh islam dan sangat taat terhadap apa yang islam perintahkan sehingga terciptalah masyarakat yang didalamnya selalu mempraktekkan agama dan terciptanya kehidupan yang harmonis sesuai ajaran islam. Mudah-mudahan penulis pribadi juga bisa mempraktikan apa yang kita dapat sehingga tidak menjadikan sebuah wacana belaka yang bisa menjerumuskan kepada dosa dan kehancuran umat karena umat ini butuh figur-figur yang jujur, sopan, pemurah, mempunyai empati yang tinggi agar bisa mengajak orang lain menuju praktek beragama yang diinginkan bukan kepiawaian menyampaikan retorika yang membara tanpa diiringi implementasi yang lebih dalam kehidupan sesungguhnya.




    Posting Komentar