• Breaking News

    Selasa, 22 Desember 2015

    Mengoptimalkan fungsi Do’a



    Mengoptimalkan fungsi Do’a

    Oleh : Riyadi S Harun


                Secara etimologi, kata Do’a berasal dari Bahasa Arab ( دعا – يدعو – دُعاءً و دَعْوَةً ) yang dalam kamus Al-Munawwir berarti meminta atau memohon. Permohonan atau permintaan yang dimaksud disini tidak lain merupakan sebuah permintaan yang berasal dari seorang hamba kepada tuhannya dan disini tidak menjadi suatu kewajiban bagi Allah untuk mengabulkannya. Sedangkan permintaan yang berasal dari tuhan kepada hambanya disebut dengan  الأَمْرُ(perintah). Sebagai makhluk, kita wajib menjalankan setiap perintah-Nya, dalam sebuah kaidah disebutkan الأصل في الأمر للوجوب (menurut asalnya, perintah itu adalah untuk mewajibkan). Adapun permintaan atau permohonan sesama makhluk disebut juga dengan iltimas. Dengan kata lain, Do’a berarti permohonan atau permintaan dari derajat yang rendah (Manusia) kepada derajat yang tinggi (Allah), Amru (perintah) adalah permintaan dari derajat yang tinggi kepada yang rendah dan iltimas adalah permintaan sesama makhluk (sama derajat).

                Dalam tulisan ini, penulis ingin mengajak rekan-rekan sekalian agar lebih mengoptimalkan fungsi daripada do’a, bukankah dalam surat Al-Baqarah ayah 186 Allah SWT telah berfirman :
    وإذا سألك عبادى عنّى فإنى قريب أجيب دعوة الداع إذا دعان فليستجيبوالى وليؤمنوابى لعلهم يرشدون (186)
                Artinya : “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka(jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia berdo’a kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam keenaran”. (186)

                Dalam ayat tersebut, Allah berfirman yang bahwasanya Allah akan mengabulkan permohonan orang-orang yang memohon kepada-Nya dengan syarat kita telah memenuhi perintah-Nya dan senantiasa beriman kepada-Nya. Walau bagaimanapun, Allah lebih mengetahui tentang kita daripada kita sendiri begitu juga dengan hajat kita, sehingga kita dituntut untuk bersabar dalam menunggu terkabulnya do’a karena bisa saja Allah akan mengabulkan do’a kita setelah beberapa saat atau Allah akan menunda permintaan kita pada waktu yang telah Beliau tentukan atau bahkan Allah akan memberikan apa yang kita inginkan tersebut nanti disaat kehidupan dunia sudah kita tinggalkan. 

    Hal yang terpenting dalam berdo’a adalah memiliki keyakinan akan apa yang kita doakan. Keyakinan inilah yang terkadang sering kita nomorduakan sehingga kita masih ragu kepada apa yang kita do’akan atau yang lebih parahnya lagi kita ragu untuk berdo’a. 

    Dalam kitab ad-Du’a wal ‘Ilaj Minal Kitab wa Sunnah karya Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthaniy menyebutkan beberapa adab agar do’a terkabul, diantaranya:
    1.      Memurnikan niat untuk Allah (Ikhlas liAllah ta’ala).
    2.      Diawali dengan pujian dan sanjungan kepada Allah SWT, kemudian shalawat kepada nabi SAW. Demikian pula disaat mengakhiri do’a.
    3.      Mantap dalam berdo’a dan yakin akan terkabulnya.
    4.      Memohon dengan penuh kerendahan dan tidak tergesa-gesa.
    5.      Hati benar-benar hadir.
    6.      Tetap berdo’a, baik dalam keadaan senang maupun dalam keadaan kesulitan.
    7.      Tidak memohon kecuali hanya kepada Allah.
    8.      Tidak memohon keburukan atas keluarga, harta, anak maupun diri sendiri.
    9.      Melembutkan suara dalam berdo’a, antara perasaan takut dan suara keras.
    10.  Mengakui dosa-dosa yang telah diperbuat dan meohon ampunan serta mengakui atas segala kenikmatan dan mensyukurinya.
    11.  Tidak mereka-reka rangkaian kata dan bersajak dalam memanjatkan do’a.
    12.  Penuh ketundukan, kekhusyukan, pengharapan serta kecemasan.
    13.  Membuang segala kezhaliman, disertai dengan taubat.
    14.  Diulang-ulang sebanyak tiga kali.
    15.  Menghadap kiblat.
    16.  Mengangkat kedua tangan.
    17.  Apabila tidak ada kesulitan, sebaiknya berwudhu sebelum berdo’a.
    18.  Dalam do’a tidak ada unsur permusuhan.
    19.  Apabila berdo’a untuk orang lain, hendaknya dimulai dulu untuk dirinya sendiri.
    20.  Hendaknya bertawassul (menggunakan perantara) kepada Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya Yang Mulia, dengan amal sholeh yang telah dia kerjakan maupun dengan mendo’akan orang sholeh yang masih hidup dan yang semasa dengannya.
    21.  Hendaknya segala yang dimakan, diminum maupun yang digunakan merupakan barang yang halal.
    22.  Tidak berdo’a dengan dosa maupun memutuskan tali silaturahim.
    23.  Hendaknya menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar.
    24.  Menjauhi segala bentuk kemaksiatan.

    Sebagai hamba, tidak selayaknya kita berprasangka buruk kepada Allah hanya karena Allah belum menjawab do’a-do’a kita. Mungkin Allah sedang menguji kesabaran kita atau kita sedang mengikuti ujian kenaikan iman. Oleh karena itu, bersabarlah! Karena akhir dari sebuah kesabaran pasti ada kenikmatan.

    Posting Komentar