• Breaking News

    Kamis, 16 November 2017

    MEREKA BERBICARA TENTANG INDONESIA

    Dari Sabang sampai Merauke di penuhi pulau demi pulau dan lautan yang luas. Suatu negeri yang elok dan kaya akan Sumber Daya Alamnya. Dihuni oleh ratusan juta manusia dengan beraneka ragam suku, bangsa, bahasa, budaya dan agama. Itulah Indonesia dengan kekayaannya yang sangat melimpah dan beraneka ragam macamnya. Zamrud Khatulistiwa menjadi gelar yang pantas disandang negeri ini. Paling tidak, itulah indonesia. Negeri kita dengan sejuta pesona dan fenomena. Nusantara yang luas dan kaya dan kita pun patut bangga karena terlahir di negeri ini.

    Berbicara tentang Indonesia tentunya tak asing lagi bagi kita tentunya sebagai orang Indonesia. Namun apakah kita banyak tahu bagaimana orang lain mengenal negeri ini? Seberapa terkenalkah bangsa kita dimata orang lain? Mungkin kita boleh saja bangga dengan negeri ini. Negeri yang sangat besar dan tanah surga katanya. Negeri yang berpenduduk muslim terbesar di dunia dan hal ini tentunya patut disyukuri oleh umat islam.

    Saya sebagai salah satu mahasiswa di International Islamic Call College Tripoli, Libya. Sebuah universitas Studi Islam dan di dalamnya khusus dipenuhi oleh mahasiswa asing dari berbagai negara di dunia. Mulai dari negara-negara di benua Afrika, Asia, Eropa dan Amerika semuanya berkumpul dan tinggal satu atap satu sama lainnya terdiri sekitar 40 negara dari belahan dunia. Dari situ saya sering berinteraksi setiap harinya dengan mereka.

    What they say about indonesia?

    Pertama, kebanyakan yang terbesit dalam benak mereka adalah bahwa indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Contoh, ketika saya sedang jalan-jalan di beberapa sudut kota Tripoli dan kebetulan sempat berbincang-bincang dengan orang libya lantas mengetahui bahwa saya berasal dari indonesia and they say ”mia mia” ya (artinya : bagus sekali) karena mereka tahu bahwa Indonesia adalah negara dengan mayoritas penduduk muslim di dalamnya. Begitu pun dengan para mahasiswa yang ada di sini, karena mereka sejak dulu sudah mendengar kebesaran Indonesia dengan jumlah muslimnya yang sangat banyak.

    Kedua, warga kampus yang terdiri dari jajaran dosen, pengurus, mahasiswa bahkan para pekerja pun secara umum menilai bahwa orang-orang indoesia sangat santun, murah senyum dan mudah untuk bergaul dengan siapa pun dan dari negara manapun. Bahkan beberapa dari mereka seperti mahasiswa yang berasal dari Afganistan, Ghana, Malawi, Ginea, Pakistan dan yang lainnya sempat saya tanya tentang orang-orang indonesia yang mereka kenal. Oleh karena itu mereka sangatlah senang bergaul dan bersahabat dengan kita. Tentunya ini mempunyai nilai tersendri di mata bangsa lain. Dan juga menjadi sebuah kebanggaan bagi Indonesia. Karena, secara otomatis akan terus membawa trend positif bagi Indonesia di mata Internasional.

    Ketiga, dalam hal pakaian dan makanan. Tentunya kita tahu batik merupakan salah satu warisan kebudayaan yang kita miliki. Dan juga Indonesia yang kaya akan rempah-rempah sehingga menghasilkan beraneka ragam menu makanan. Mungkin sebagian dari kita tahu bahwa dulu presiden Soekarno pernah menghadiahkan batik kepada Nelson Mandela. Ternyata baju batik itu cukup menarik perhatian mahasiswa-mahasiswa dari negara-negara Afrika. Makanya, tak heran jika mereka yang sengaja menitip untuk dibelikan baju batik ketika ada mahasiswa Indonesia yang hendak pulang ke tanah air.

    Peluang ini tentunya dimanfaatkan oleh sebagian mahasiswa Indonesia yang kebetulan pulang ke tanah air dan memborong baju batik untuk dijual kembali disana. Hal ini tentunya jika diapresiasi lebih jauh bahwa indonesia bisa memainkan perannya dalam mengenalkan fashion asli indonesia. tak menutup kemungkinan produk pakaian khas Indonesia bisa meluas dan lebih mendunia.

    Kemudian yang menarik perhatian adalah, tidak sedikit para mahasiswa asing lainnya yang menyukai menu masakan indonesia. Memang tidak banyak menu yang ditawarkan karena hanya sebatas menu sederhana seperti nasi goreng, yang sering dibuat oleh beberapa mahasiswa Indonesia di luar negeri. Bahkan ketika saya bertemu dengan orang Libya yang sudah pernah tinggal di Indonesia ternyata sangat menyukai nasi goreng. Sepintas terlihat sepele namun merupakan sebuah opportunity untuk mengenalkan lebih jauh kuliner Indonesia. Harus diakui, walau negeri kita kaya akan kulinernya namun belum bisa bersaing dengan restoran-restoran cina yang ada dimana-mana.

    Keempat, dunia pendidikan. Kenyataan yang saya dapati selama saya di International Islamic Call College Tripoli, sampai saat ini bahwa universitas-universitas di negeri jiran, Malaysia lebih dikenal daripada universitas-universitas yang ada di Indonesia. Sebagian dari mereka bilang bahwa akses untuk studi di Malaysia lebih mudah dijangkau di banding ke Indonesia. bahkan tidak sedikit yang kurang informasi tentang hal ini. Tentunya untuk membenahi pembangunan dan peningkatan pendidikan dalam negeri saja masih belum maksimal, apalagi harus menampung para pelajar-pelajar asing.

    Data Statistik menunjukkan bahwa indonesia hanya menjadi tujuan bagi 3.023 mahasiswa asing. Sementara Malaysia mencapai 41.310 mahasiswa asing (hampir 14 kali lipat) pada tahun 2009 (sumber: UNESCO Institute for Statistics (UIS)). Sementara kita masih mabuk dan terbuai dengan fakta sejarah, bahwa kita pernah mengirim guru ke Malaysia. Tak sedikit orang masih bangga dengan lulusan luar negeri ketimbang dari dalam negeri itu sendiri. Tentunya hal ini masih menjadi PR besar kita semua, terutama bagi Pemerintah dan pakar-pakar pendidikan yang ada. Mungkin saatnya jika bangsa ini mau berjuang lebih keras lagi niscaya akan menjadi center of education and ability. Orang-orang asing akan bangga dengan gelar akademik yang didapat di Indonesia.

    Kelima, sektor wisata. Hal ini juga tidak luput dari perbincangan mereka tentang Indonesia. Entah bagi yang sudah mengetahui tentang Alam indonesia ataupun sebatas searching dari google, melalui pelajaran Geografis tentang negara-negara Islam dan juga sebatas obrolan-obrolan sehari-hari. Hal ini setidaknya memberikan gambaran bagi mereka tentang destinasi wisata nusantara yang tentunya banyak sekali tempat-tempat dengan pemandangan yang luar biasa indahnya.

    Senada dengan hal itu bahwa sejak dulu pun alam Indonesia sudah diakui keindahannya dan seolah memang layak untuk disebut Tanah Surga. Hal ini di tuturkan pula oleh salah satu ulama asal Suriah, Ali Tantowi yang mengarang kitab tentang alam Indonesia dan penduduknya “Suwar min Indonesia” (potret-potret alam Indonesia). Kunjungan ini beliau lakukan sekitar tahun enam puluhan. Ketika menaiki kereta sambil melihat di jendela “Rasanya seperti di bioskop karena pemandangan-pemandangan indah nampak dan berganti-ganti” ujar beliau.

    Seyogyanya peluang ini sangatlah besar bagi Indonesia karena banyak sekali tempat-tempat wisata yang daya saingnya masih kalah dibandingkan negara-negara lainnya. Tidak menutup kemungkinan tempat-tempat yang lain pun seperti Kuningan, Ciamis, Bogor dan lainnya akan menyamai Bali dan Lombok. Sehingga dalam hal ini Indonesia menjaga target wisata nomor wahid di dunia.

    Sebagai mahasiswa rantau di salah satu negara di Benua Afrika. Saya dan teman-teman yang lainnya sangatlah bangga menjadi bagian dari bangsa ini. Bangsa yang besar dan sangatlah kaya. Bangsa yang dikagumi oleh orang lain. Mungkin orang tidak akan begitu tahu bahwa Indonesia sangatlah besar dan kaya. Maka kami melihatnya dari jauh, kami bisa membandingkan dengan yang lainnya dan semakin tersadar akan pentingnya pembangunan bagi bangsa ini, entah pendidikan, wisata, kuliner, fashion dan yang lainnya. Bermula dari cinta dengan identitas kita, cinta dengan budaya kita, cinta dengan produk asli kita. Dan peranan pemerintah sangatlah urgen dalam menggali potensi-potensi yang ada.

    Sejarah kebesaran Majapahit dahulu tidaklah cukup menjadikan kita bangga karena orang lain tidak akan peduli tentang itu. Pada kenyataannya sekarang kita layaknya Singa yang masih tertidur pulas. Sudah semestinya kita banyak berkaca dan belajar dari bangsa lain. Kalau bukan kita siapa lagi, kalau tidak sekarang kapan lagi. Jangan sampai anak cucu kita menuai kesengsaraan di hari kemudian. Wassalam


    Penulis: Agus Mujib,
    Mahasiswa Semester 5 Fakultas Adab, International Islamic Call College, Tripoli Libya.



    Posting Komentar